MASALAH BACAAN DAN GERAKAN DALAM SHALAT (6)

0
32

Mewashalkan Bacaan Fatihah dalam Shalat

Tanya : Mewashalkan (membaca terus bersambung tanpa berhenti) bacaan Fatihah dalam shalat ada yg berpendapat bahwa itu menyebabkan tidak sahnya shalat, bagaimana sebenarnya ? Mohon penjelasan (Miftah A, MtsM Riau Periangan, Padangratu, Lampung Tengah)

Jawab : Terlebih dahulu perlu dimengerti bahwa memang dalam shalat membaca Fatihah merupakan bacaan pokok pada tiap-tiap rakaat. Dalam pada itu perlu pula dimengerti bahwa dalam melakukan shalat sedapat mungkin dilakukan sesuai dengan Rasulullah melakukan shalat itu, termasuk membaca Fatihah. Bagaimana Nabi membaca antara lain dapat dipahami dari beberapa hadist dibawah : dari Qatadah ia berkata : (sahabat) Anas ditanya (oleh seseorang) bagaimana bacaan Nabi saw, maka Anas menjawab :”Nabi saw membaca dengan memanjangkan suaranya”. kemudian Anas memperdengarkan apa yg Nabi bacakan itu yakni : Bismillahirrakhmaanirrahim beliau memanjangkan bacaan Basmalah memanjangkan Arrahmaan Arrahim (HR. Al Bukhari)

Dari Abdullah bin Abi Mulaikhah, ia berkata : Bahwasanya Ummu Salamah pernah ditanya tentang bacaan Rasulullah saw, maka Ummu Salamah berkata : ” Nabi saw memutuskan (menghentikan) bacaannya pada setiap tempat berhenti ayat demi ayat, Bismilahirrahmanirrohim (berhenti) Al Hamdulillahhi Rabbil ‘Alamin (berhenti), Arrahmanirrahim (berhenti) Maaliki Yaumiddin …sampai akhir surat.” (HR Abu Dawud)

Dalam membaca Maalikiyaumiddin dengan panjang Maa tetapi juga kadang kadang Malikiyaumiddin dengan Ma tidak panjang demikian menurut riwayat Al Hakim dan shahih.

Demikian juga dalam hadist tersebut diatas ada petunjuk bahwa bacaan Basmalah dalam Fatihah yang dalam pemahamannya dari berbagai dalil yang ada, ada yang membaca jahr dan ada yang membaca sir.
Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa dalam membaca Fatihah hendaklah membacanya dengan ayat demi ayat, tidak disambung sekalipun dalam ilmu bacaan boleh saja menyambung ayat yang satu dengan ayat yang lain yang memang ada tanda kebolehan menyambung, tetapi hendaknya berhenti bila ada tanda berhenti. Yang disebut tanda Waqaf muthlaq seperti pada akhir ayat Iyyakana’budu Waiiyyaka Nasta’in yg ditandai dengan huruf Tha. untuk itu perlu dipelajari ilmu Tajwid, yakni ilmu baca Al Quran dengan baik, bagi yang sudah mengetahui ilmu tersebut dan melanggarnya terutama yang mestinya wajib berhenti tetapi tidak berhenti atau yang mestinya tidak boleh berhenti tetapi justru berhenti yang akibatnya mengubah makna, hal itu merupakan kesalahan seperti kalau melakukan Waqafqabih. Keterangan ini bukan untuk memberi kesan bahwa belajar agama itu sukar dan berat. Tetapi justru memberi kesan bahwa dalam Islam, masa belajar dan bahan yang harus dipelajari terutama yang berkenaan dengan ibadah, tiada ada hentinya. Kesimpulannya dalam membaca bacaan dalam shalat dilakukan dengan tartil, sesuai dengan yang dilakukan Nabi, tidak perlu kita memberi cap batal shalatnya bagi yg sholat demikian

Sumber : Buku Tanya Jawab Agama Jilid 2 Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih
Disalin oleh : Rudyspramz070220
Web : htpps://wonosobomu.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here